CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Sunday, August 15, 2010

JANGAN HINDARI KENYATAAN (Based on PASTORAL CARE: EXPERIENCE THE CROSS)

Kejadian 16:9 Lalu kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: "Kembalilah kepada nyonyamu, biarkanlah engkau ditindas di bawah kekuasaannya."

Ketika Hagar melarikan diri dari penindasan yang dilakukan Sarai, Tuhan berfirman kepada Hagar agar dia kembali kepada Sarai, padahal Tuhan sudah tahu bahwa Sarai menindas Hagar. Mungkin membaca ayat firman Tuhan ini kita berkata mengapa Tuhan tega menyuruh Hagar kembali dan mengapa Tuhan sampai hati melihat penderitaan Hagar? Apakah karena Hagar seorang hamba dari Sarai sehingga seakan-akan Tuhan membiarkan Hagar ditindas oleh Sarai? Hagar berusaha melarikan diri dari kenyataan, tapi Tuhan menyuruh dia untuk menghadapi kenyataan.

Memang pada awalnya Hagar adalah hamba dari Sarai, namun atas seijin Sarai, Hagar menjadi istri Abram. Sebagai istri yang sah dari Abram, dia harus berada di dekat suaminya. Tuhan tidak mau Hagar meninggalkan Abram walaupun dia harus menderita akibat penganiayaan yang dilakukan oleh Sarai karena keturunan Hagar juga akan diberkati oleh Tuhan yaitu akan menjadi bangsa yang besar. Tuhan sudah berjanji kepada Abram bahwa keturunannya akan menjadi bangsa yang besar, dan karena ketidaksabarannya menunggu janji itu, pewaris janji itu menjadi dua bagian yaitu dari Sarai dan dari Hagar. Keturunan Hagar akan mendapat berkat jasmani yaitu menjadi bangsa yang besar dan keturunan Sarai akan mendapat kedua-duanya yaitu berkat jasmani yaitu menjadi bangsa yang besar dan berkat rohani yaitu merupakan garis keturunan Juru Selamat. Menurut tradisi, agar keturunan Hagar bisa menjadi pewaris dari Abram, dia harus tetap tinggal di rumah Abram dan keturunannya harus diakui sebagai anak dan pernah dipanggil sebagai anak oleh Abram. Itu sebabnya Tuhan menyuruh Hagar agar kembali kepada Abram karena memang Tuhan sudah merancangkan sesuatu yang baik kepada Hagar dan keturunannya yaitu menjadi bangsa yang besar.


Dari kasus Hagar ini, kita dapat memetik suatu pelajaran bahwa penderitaan yang dialami tidak selamanya merupakan duka. Penderitaan yang dialami oleh Hagar sifatnya hanya sementara, karena ternyata garis keturunannya akan menjadi bangsa yang besar. Dengan bertahannya dia di dalam rumah Abram walaupun harus menderita, ternyata adalah untuk kebaikannya. Apabila dia tidak mau hidup menderita bersama dengan Abram dan Sarai, maka janji itu tidak akan pernah diterimanya. Apabila Hagar tetap melarikan diri dan tinggal di padang pasir, maka keturunannya tidak akan seperti saat ini. Demikian pula dengan kita, Penderitaan yang dialami tidak selamanya akan seperti itu. Ada sesuatu yang indah dibalik semua penderitaan yang dialami. Namun masalahnya, kita tidak pernah tahu mengapa suatu penderitaan harus kita alami karena Tuhan tidak pernah berbicara secara langsung kepada kita seperti yang dialami oleh Hagar. Yang pasti, kita hanya diyakinkan oleh firman Tuhan bahwa penderitaan yang dialami tidak melebih kekuatan yang dimiliki (I Korintus 10:13). Kita hanya diberitahu melalui firman Tuhan bahwa Tuhan akan memberikan jalan keluar bagi setiap penderitaan kita. Kita sering tidak kuat menghadapi segala macam persoalan hidup. Sebagai seorang istri, kita sering kali tidak mengerti mengapa suami menindas dan memukuli kita. Kita berontak dan berusaha melarikan diri dari kenyataan yang ada. Sebagai seorang bawahan, kita sering tidak mengerti mengapa atasan sering menindas dan menekan kita. Karir dihambat dan seakan tidak masuk hitungan sehingga harus mengundurkan diri. Sebagai seorang pengusaha, kita sering tidak mengerti mengapa usaha yang dirintis selalu jatuh bangun, sehingga tidak lagi mau berusaha. Ada begitu banyak hal yang membuat kita bertanya mengapa sesuatu hal harus kita alami. Kita tidak pernah tahu mengapa penderitaan, penganiayaan dan penindasan harus dialami. Ternyata, Tuhan sedang merancangkan sesuatu yang besar kepada kehidupan kita. Sebagai seorang ahli waris, kita tidak akan pernah bisa menjadi besar apabila kita menjauh dari Pemberi warisan. Kita tidak akan pernah menjadi ahli waris apabila kita melarikan dari situasi yang ada. Itu sebabnya mengapa Tuhan mengatakan kepada kita agar bersabarlah dalam kesesakan dan bertekunlah dalam doa (Roma 12:12). Bersabar dalam kesesakan berarti kita harus tahan banting dan rela menderita di dalam Kristus. Bertekun dalam doa, berarti kita tetap menjalin hubungan dengan Tuhan melalui doa. Maka dalam semuanya itu, Tuhan akan memulihkan kehidupan kita. Penderitaan akan diganti dengan sukacita yang luar biasa karena berkat jasmani dan rohani sedang menanti kita. Jangan pernah lari dari kenyataan. Terpujilah nama Tuhan. Haleluyah. Amin.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.